Bagi traveler yang melewati ruas Jalan Magelang, Sleman, Yogyakarta, akan melihat papan penunjuk menuju Masjid Suciati Saliman. Nama Suciati Saliman sendiri mungkin masih asing bagi sebagian besar warga Yogya, tetapi ternyata tidak bagi warga Kota Sleman dan sekitarnya.

Namanya kini dijadikan sebagai nama sebuah masjid yang cukup ikonik Jalan Gito-Gati di timur Lapangan Beran. Selain digunakan untuk ibadah, banyak wisatawan yang datang ke masjid Suciati untuk berfoto.

Budaya Timur Tengah tampak dari desain pintu yang berlapis emas di sepanjang tepi pintu. Pintu ini mengingatkan saya akan pintuMasjid Nabawi di Madinah ketika saya umroh dulu. Pintunya berjumlah sembilan buah yang menggambarkan jumlah wali singo, sedangkan lima menaranya merepresentasikan jumlah waktu salat dalam satu hari.

Budaya Jawa nampak dari desain atap yang berbentuk limas. Untuk dinding dan lantainya yang nampak mewah, ternyata terbuat dari marmer. Konon, dari berita yang beredar, biaya pembangunan masjid ini mencapai miliaran rupiah.

Jamaah laki-laki bisa beribadah di lantai 2, sedang jamaah perempuan di lantai 3. Lantai 1 sendiri sering digunakan untuk kajian dan pertemuan. Area parkir terletak di seberang jalan. Mampu menampung puluhan mobil bahkan bus pariwisata besar.

Jadi siapakah Suciati Saliman itu?

Memiliki nama asli Suciati, ternyata masyarakat sekitar lebih mengenalnya sebagai Ibu Saliman, yang merupakan nama almarhum sang suami, Saliman Riyanto Raharjo. Mulanya ibu Saliman hanya berjualan ayam kampung di Pasar Terban, Yogya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here